Kamis, 07 April 2016

Kisah Inspiratif

Ceritaku

Pertama-tama perkenalkan diri saya terlebih dahulu, nama saya Candika. Sejak kecil saya selalu dididik oleh kedua orang tua saya mengenai cara-cara menjalankan tradisi sembahyang dan sebagainya. Dahulu ketika saya sudah menginjak kursi sekolah, pembelajaran mengenai Agama Buddha di sekolah tidak menarik minat saya. Tidak dipungkiri Agama Buddha yang diajarkan saya tidak pernah mencoba mengerti maupun mendalaminya. Hal tersebut sangat mungkin berkaitan dengan kamma saya yang mungkin belum berbuah, sehingga pada saat SD saya benar-benar sangat buta akan Agama Buddha. Satu hal yang membuat saya tahu adalah “dosa”. Banyak sekali cerita maupun terror berupa dosa akan hal buruk yang jika kita perbuat dan juga keyakinan tradisi lainnya.
Meski pada masa kecil saya bukanlah sosok yang jahat, tapi yang pasti saya bukanlah sosok yang kenal maupun familiar dengan Agama Buddha. Hal tersebut berlangsung hingga SMP di mana saya semakin menjadi-jadi. Saya diajar oleh seorang guru agama yang sudah mempunyai reputasi buruk di sekolah dan tidak memberikan apa-apa bagi batin saya. Masa SMP adalah masa-masa dimana saya semakin jauh dari yang namanya “Buddha”. Tidak ada agama dalam hidup, meski sekali lagi saya bukanlah sosok yang jahat, cuma ketidaktahuan saya telah membuat saya menjadi buta segalanya. Keadaan mulai berubah saat saya memasuki kursi SMA , saya ikut tinggal bersama seorang Bhikkhu di Gunung Kidul yaitu Bhikkhu Sanana Bodhi. Tidak tahu apa yang terjadi tapi saya menjadi benar-benar tertarik dengan penjelasan beliau yang bisa diterima dengan akal maupun logika dan saya sangat mengerti.
Saya mengenal beliau dengan baik, hal tersebut berimbas pada pengetahuan saya mengenai Agama Buddha. Saya mulai merasakan kesejukkan mengenai Agama Buddha, dimana saya mulai merasakan kedamaian akibat ajaran Agama Buddha. Saya bangga akan perbuatan saya baik buruk atau baik, saya berani untuk menerima akibatnya. Saya merasa sebagai sosok yang tidak mencoba mencari perlindungan selain pada perbuatan saya sendiri. Hal tersebut berlanjut hingga saya kuliah di STIAB Smaratungga. Akibat dari tekad saya tidak jarang orang tersinggung oleh tindakan saya, tapi tidak pernah saya pedulikan.
Ketika saya mencoba membunuh suatu makhluk hidup saya mulai berpikir akan kondisi yang sama jika terjadi pada diri kita. Ketika saya melihat bunga mekar, batin saya mulai berkata pada saya apa yang diperbuat itulah yang dipetik. Ketenangan yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Damai yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya menjadikan saya tidak lagi merasakan ketakutan maupun kegelisahan apapun. Betapapun saya pernah mengagungkan kekerasan tetapi sekarang saya mulai merasa dengan menyakiti orang lain sesungguhnya kita menyakiti diri kita sendiri. Saya mulai berpikir mengenai kondisi tidak kekal, penderitaan, dan tidak adanya ego. Saya tidak terhipnotis dan tidak terbuai oleh yang namanya surga, tetapi semua perbuatan saya lakukan semata-mata untuk kebahagiaan semua makhluk yang ada.
Saya tahu banyak pribadi yang mengalami masalah seperti saya, dan juga banyak sekali yang berpindah agama karena hal tertentu. Di sini saya hanya mencoba menyampaikan satu hal yakni cobalah untuk mendekati Sang Buddha dan ajaranNya. Jangan pernah meninggalkan ajaran kesunyataan tersebut karena dengan melakukan hal tersebut kita telah meninggalkan kebahagiaan kita sendiri. Saya bukan sosok yang bisa menghafal semua paritta dan mengerti semua ajaran Dhamma, tapi untuk semua pribadi saya sarankan berpijaklah pada empat pernyataan Sang Buddha yakni:
Janganlah berbuat kejahatan,
Tambahkanlah kebajikan,
Sucikan hati dan pikiran,
Inilah inti ajaran para Buddha.
Mungkin cerita saya jauh dari kesan magic. Tetapi yang ingin saya sampaikan adalah bahwa semua orang bisa seperti saya apabila mereka berusaha mendekati Buddha dan ajaranNya. Bukalah pintu hati dan pikiran untuk mencoba mencari kebahagiaan dalam ajaranNya, niscaya batin dan kepercayaan tidak akan tergoyahkan.
Semoga cerita saya menjadi inspirasi bagi siapa saja yang mengalami kesulitan mengenal Agama Buddha dan sedang tergoyahkan batin maupun kepercayaannya. Tidak ada unsur kepalsuan dalam cerita ini dan semuanya berdasarkan pengalaman nyata saya.

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Semoga semua makhluk hidup berbahagia



http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html

0 komentar:

Posting Komentar