Ceritaku
Pertama-tama
perkenalkan diri saya terlebih dahulu, nama saya Candika. Sejak kecil saya selalu dididik oleh kedua orang tua saya mengenai
cara-cara menjalankan tradisi sembahyang dan sebagainya. Dahulu ketika saya
sudah menginjak kursi sekolah, pembelajaran mengenai Agama Buddha di sekolah
tidak menarik minat saya. Tidak dipungkiri Agama Buddha yang diajarkan saya
tidak pernah mencoba mengerti maupun mendalaminya. Hal tersebut sangat mungkin
berkaitan dengan kamma saya yang mungkin belum berbuah, sehingga pada saat SD
saya benar-benar sangat buta akan Agama Buddha. Satu hal yang membuat saya tahu
adalah “dosa”. Banyak sekali cerita maupun terror berupa dosa akan hal buruk
yang jika kita perbuat dan juga keyakinan tradisi lainnya.
Meski pada masa
kecil saya bukanlah sosok yang jahat, tapi yang pasti saya bukanlah sosok yang
kenal maupun familiar dengan Agama Buddha. Hal tersebut berlangsung hingga SMP
di mana saya semakin menjadi-jadi. Saya diajar oleh seorang guru agama yang
sudah mempunyai reputasi buruk di sekolah dan tidak memberikan apa-apa bagi
batin saya. Masa SMP adalah masa-masa dimana saya semakin jauh dari yang
namanya “Buddha”. Tidak ada agama dalam hidup, meski sekali lagi saya bukanlah
sosok yang jahat, cuma ketidaktahuan saya telah membuat saya menjadi buta
segalanya. Keadaan mulai berubah saat saya memasuki kursi SMA , saya ikut
tinggal bersama seorang Bhikkhu di Gunung Kidul yaitu Bhikkhu Sanana Bodhi.
Tidak tahu apa yang terjadi tapi saya menjadi benar-benar tertarik dengan
penjelasan beliau yang bisa diterima dengan akal maupun logika dan saya sangat
mengerti.
Saya mengenal beliau dengan baik, hal tersebut berimbas pada
pengetahuan saya mengenai Agama Buddha. Saya mulai merasakan kesejukkan
mengenai Agama Buddha, dimana saya mulai merasakan kedamaian akibat ajaran
Agama Buddha. Saya bangga akan perbuatan saya baik buruk atau baik, saya berani
untuk menerima akibatnya. Saya merasa sebagai sosok yang tidak mencoba mencari
perlindungan selain pada perbuatan saya sendiri. Hal tersebut berlanjut hingga
saya kuliah di STIAB Smaratungga. Akibat dari tekad saya tidak jarang orang
tersinggung oleh tindakan saya, tapi tidak pernah saya pedulikan.
Ketika saya mencoba membunuh suatu makhluk hidup saya mulai
berpikir akan kondisi yang sama jika terjadi pada diri kita. Ketika saya
melihat bunga mekar, batin saya mulai berkata pada saya apa yang diperbuat
itulah yang dipetik. Ketenangan yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya.
Damai yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya menjadikan saya tidak lagi
merasakan ketakutan maupun kegelisahan apapun. Betapapun saya pernah
mengagungkan kekerasan tetapi sekarang saya mulai merasa dengan menyakiti orang
lain sesungguhnya kita menyakiti diri kita sendiri. Saya mulai berpikir
mengenai kondisi tidak kekal, penderitaan, dan tidak adanya ego. Saya tidak
terhipnotis dan tidak terbuai oleh yang namanya surga, tetapi semua perbuatan
saya lakukan semata-mata untuk kebahagiaan semua makhluk yang ada.
Saya tahu banyak pribadi yang mengalami masalah seperti saya,
dan juga banyak sekali yang berpindah agama karena hal tertentu. Di sini saya
hanya mencoba menyampaikan satu hal yakni cobalah untuk mendekati Sang Buddha
dan ajaranNya. Jangan pernah meninggalkan ajaran kesunyataan tersebut karena
dengan melakukan hal tersebut kita telah meninggalkan kebahagiaan kita sendiri.
Saya bukan sosok yang bisa menghafal semua paritta dan mengerti semua ajaran
Dhamma, tapi untuk semua pribadi saya sarankan berpijaklah pada empat
pernyataan Sang Buddha yakni:
Janganlah berbuat
kejahatan,
Tambahkanlah kebajikan,
Sucikan hati dan pikiran,
Inilah inti ajaran para Buddha.
Tambahkanlah kebajikan,
Sucikan hati dan pikiran,
Inilah inti ajaran para Buddha.
Mungkin cerita saya jauh dari kesan magic. Tetapi yang ingin
saya sampaikan adalah bahwa semua orang bisa seperti saya apabila mereka
berusaha mendekati Buddha dan ajaranNya. Bukalah pintu hati dan pikiran untuk
mencoba mencari kebahagiaan dalam ajaranNya, niscaya batin dan kepercayaan
tidak akan tergoyahkan.
Semoga cerita saya menjadi inspirasi bagi siapa saja yang
mengalami kesulitan mengenal Agama Buddha dan sedang tergoyahkan batin maupun
kepercayaannya. Tidak ada unsur kepalsuan dalam cerita ini dan semuanya
berdasarkan pengalaman nyata saya.
Sabbe Satta Bhavantu
Sukhitatta
Semoga semua makhluk hidup berbahagia
Semoga semua makhluk hidup berbahagia






0 komentar:
Posting Komentar